Harga Komputer Tablet Sebaiknya 300 USD:

Geliat komputer tablet semakin seruu, setelah kesuksesan iPad dari Apple Inc yang telah terjual 3 juta unit sejak diperkenalkan tanggal 3 A...

DUKASCOPY TV - Forex Television

dukascopy_tv_banner
  • Cari Berita
  • Member Login
  • OL Support
Google
 
Web Seruu!Com
bungseruu

Bung Seruu

Iklan Seruu

Jadwal Puasa & Sholat 1431 H

Ketakmenarikan Artis Jadi Caleg PDF Print E-mail
Pemilu | Pemilu Legislatif 2009
DALAM seleksi calon anggota legislatif (caleg) yang dilakukan oleh partai politik (parpol),banyak artis yang dijadikan caleg. Nama mereka akan dipasang oleh parpol di berbagai wilayah pemilihan. Penampilan para artis tersebut diharapkan bisa mendongkrak perolehan suara bagi parpol yang bersangkutan.

Ada sejumlah artis yang kini namanya disebut-sebut oleh media massa akan menjadi caleg. Misalnya Marissa Haque, Desy Ratnasari, Evy Tamala, dan Gugun Gondrong yang dicalonkan PDI-P. Nurul Arifin, Renny Jayusman, dan Ruhut Sitompul dicalonkan Partai Golkar. Pelawak Kirun jadi caleg melalui PKB serta pelawak Gogon menjadi caleg PAN.

Di PPP ada Emilia Contessa dan Nani Wijaya atau Roy Marten di Partai Demokrat. Di partai lain tidak tertutup kemungkinan juga artis dipasang menjadi caleg.

Dari sisi persyaratan, keikutsertaan para artis di dalam pencalegan tentu tidak masalah. Sebab dari syarat formal, seperti pendidikan, dan lain-lain, mereka pada umumnya memenuhi syarat. Sementara itu sebagai public figure mereka itu -setidaknya dalam pandangan orang parpol -mempunyai nilai plus, karena memiliki massa, pengagum atau dikenal oleh masyarakat luas, diharapkan bisa menjadi magnet untuk menyedot masyarakat memilih parpol yang memasang para artis tersebut.

Persoalannya, cukupkah para artis yang menjadi caleg sekadar bertugas untuk menjadi pajangan yang menjadi daya tarik para pemilih? Ataukah mereka itu memang disiapkan menjadi wakil rakyat yang akan berjuang habis-habisan memperjuangkan nasib masyarakat?

Tidak Menarik

Kehadiran para artis yang meramaikan bursa caleg menjelang Pemilu 2004, sesungguhnya bukan merupakan hal baru. Sebab, pada era Orde Baru pun para artis banyak yang dipajang menjadi pengumpul suara (vote getter) di dalam pemilu. Di antara mereka juga ada yang sempat berkantor di Senayan, misalnya Eddy Sud dan Rhoma Irama.

Namun ketika era reformasi, nama artis yang menjadi caleg pun semakin banyak dan merata. Mereka ada pada hampir semua partai politik. Terlepas mereka itu akhirnya benar-benar menjadi anggota DPR/DPRD atau sekadar menjadi pajangan ketika kampanye.

Kebijakan parpol memasang para artis dengan pertimbangan para selibriti adalah bagian dari masyarakat yang mempunyai massa. Dalam arti mereka itu dikenal luas, karena sering tampil di sinetron yang ditayangkan televisi, menjadi berita di surat kabar dan majalah atau media lain.

Terlebih lagi, pada umumnya artis berwajah cantik dan tampan sehingga wajah mereka mudah dikenali dan dikagumi sebagian masyarakat. Apalagi para selibriti yang berakting bagus, memerankan tokoh yang digemari rakyat, sehingga mereka mempunyai fans yang jumlahnya cukup besar. Dengan "kelebihan" itulah, parpol memasang mereka menjadi caleg.

Terlepas daya tarik yang dimiliki para artis, sesungguhnya ada faktor yang "tidak menarik" dari para artis yang menjadi caleg. Hal ini bisa dilihat berbagai faktor yang melekat pada mereka. Misalnya yang menyangkut motivasi atau kesiapan mereka sebagai caleg atau kualitas mereka untuk menjadi wakil rakyat.

Pertama, motivasi para artis menjadi caleg masih layak dipertanyakan. Apakah mereka karena rikuh pekewuh terhadap partai politik yang menawari, sehingga dengan mudah menerima menjadi caleg, atau ada motivasi lain misalnya untuk menambah popularitas, membangun jaringan, atau motif ekonomi.

Motif ekonomi bisa terjadi karena para artis itu mendapat kontrak dari parpol yang nilainya bisa ratusan juta atau bahkan miliaran untuk manggung selama kampanye pemilu. Kalau motif mereka sekadar itu, mereka menjadi caleg justru merugikan rakyat, karena hanya bermotif ekonomi atau lainnya yang notabene untuk menguntungkan diri sendiri atau parpol yang bersangkutan.

Kedua, kesiapan mereka kalau mereka benar-benar terpilih menjadi anggota DPR/DPRD, apakah siap melepaskan dunia keartisan yang telah digelutinya? Karena yang harus diingat, menjadi anggota DPR/DPRD tidak boleh sampingan, tetapi memerlukan kesungguhan dan kerja keras.

Menjadi anggota DPR harus all-out dalam memperjuangkan nasib rakyat. Padahal dunia artis juga penuh kesibukan, misalnya kegiatan syuting yang sampai larut malam dan sebagainya. Karena itu, tidak mungkin dua profesi itu dirangkap sehingga harus ada salah satu yang dikalahkan. Apakah tetap menjadi artis atau sepenuhnya menjadi anggota DPR/DPRD.

Rakyat yang diwakili tentu tidak menginginkan ada artis yang menjadi anggota DPR malah tidak pernah datang ke kantor aatau turun ke bawah. Hal itu tentu sangat merugikan rakyat yang diwakilinya.

Memang ada artis yang tetap bisa menjalankan dua fungsi. Selain sebagai anggota DPR, juga tetap melakukan kegiatan syuting sinetron dan dunia keartisan. Misalnya Sophan Sophian yang menjadi anggota DPR dari PDI-P, tetapi kemudian mengundurkan diri, karena tidak tahan di dunia politik lantaran seringnya etika diabaikan.

Begitu pula Rhoma Irama, yang sempat duduk di DPR, juga mengundurkan diri dengan alasan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

Ketiga, pada umumnya para selibriti identik dengan keglamoran dan hura-hura. Adapun dunia politik memerlukan keseriusan dan kecanggihan dan kalau perlu bisa menjadi teladan. Karena itu, apakah para artis itu kalau menjadi anggota DPR siap dengan meninggalkan gaya hidup seenaknya, glamor dan hura-hura?

Menjadi anggota DPR/DPRD juga harus siap dengan penguasaan, pemahanan, dan pendalaman yang berkaitan dengan politik, kekuasaan, dan kerakyatan. Bukan berarti para artis itu bodoh, karena dalam kenyataan ada artis yang bergelar S1, S2, dan lainnya. Namun masalahnya, kalau mereka siap menjadi anggota legislatif, tentu kualitas mereka tidak boleh diragukan. Jangan sampai terjadi ada anggota legislastif dari artis justru memperburuk citra lembaga DPR/DPRD karena pemahaman dan penguasaan artis di bidang politik sangat rendah.

Tidak Asal Comot

Para artis menjadi caleg sesungguhnya sah-sah saja. Sebab, itu menyangkut hak asasi setiap parpol dan hak asasi bagi artis yang dijadikan caleg. Bahkan di dunia yang demokrasinya sudah maju seperti Amerika Serikat, artis menjadi senator atau bahkan calon presiden juga tidak masalah.

Ronald Reagan mantan presiden AS pada awalnya adalah seorang artis. Begitu pula yang terbaru, Arnold Schwarzenegger, yang kini menjadi Gubernur Kalifornia adalah seorang selibriti beken.

Bedanya dari yang terjadi di Indonesia, di luar negeri mereka sudah menyiapkan diri sedemikian lama untuk terjun ke politik, sedangkan di Indonesia yang sering terjadi adalah asal comot. Begitu mendapat tawaran dari parpol karena terkait dengan kontrak menyanyi atau tampil selama kampanye, mereka siap saja menjadi caleg.

Akibatnya, para artis itu sesungguhnya hanya siap menjadi "caleg pajangan", bukan menjadi calon anggota DPR/DPRD yang sesungguhnya. Hal ini akan sangat terlihat ketika mereka tampil dalam kampanye, paling banter hanya menyanyi, mesam-mesem, atau meneriakkan yel-yel partai yang mencalonkan mereka. Mereka jarang sekali bisa menyampaikan visi dan misi perjuangan parpol untuk kepentingan rakyat.

Parpol merekrut artis menjadi caleg seharusnya tidak asal comot tetapi melalui proses lama, sehingga ada sosialisasi dan pendalaman bagi mereka tentang peran dan fungsi parpol. Selain itu, perlu dites integritas moral dan kepribadian mereka dalam berpolitik. Diharapkan mereka bisa ikut memperjuangkan nasib rakyat.

Jangan sampai perekrutan artis menjadi caleg sekadar bermotif ekonomi bagi artis dan mendulang suara bagi parpol, sebab kalau hal itu yang terjadi, sama halnya membiarkan terjadinya tragedi demokrasi dan penipuan kali kesekian kepada rakyat. (18c)

-Drs HA Kusnadi MSi, pengamat politik alumnus S2 Universitas Diponegoro




Tambahkan halaman ini ke situs social bookmarking favorit anda !

Komentar (0)

Subscribe to this comment's feed

Show/hide comments

Tulis Komentar

Kecil | Besar
security image
Tuliskan Kode di Atas


Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
busy
 
solusihp_banner

Follow Seruu!Com :

Facebook Page: 323781725037 FeedBurner: seruu Twitter: bung_seruu
banner_versimobile_seruu